CINEMA#9 : DISKUSIKAN HAK ANAK OLEH ANAK

Sabtu 24 Februari 2018 jelang sore sebanyak 100 anak riuh rendah berkumpul di Kompleks Balaikota Yogyakarta. Semua tampak bersemangat untuk mengikuti Cinema#9 yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Mayarakat Perempuan dan Anak (DPMPA) Kota Yogyakarta. Twistanisa Atha Brilliant Ilmi kelas 7C, Nailu Nada Zahra dan Naila Takadia kelas 7F SMP Negeri 5 Yogyakarta berkesempatan mengikuti Cinema#9 yang berlangsung tanggal 24-25 Februari 2018 di Graha Kinasih Kaliurang.

Berangkat dengan diangkut 3 bis, sampai di Kaliurang kami disambut dengan udara dingin khas pegunungan yang menyejukkan. Sebelum pembukan acara kami melakukan ice breaking dengan saling berkenalan antar peserta dan panitia. Peserta berasal dari perwakilan kelurahan, perwakilan SMP, SMA, SMK dan peyandang disabilitas di Kota Yogyakarta.

Panitianya kakak-kakak dari FAKTA (Forum Anak Kota Yogyakarta). FAKTA terbentuk sebagai respons Pemerintah Kota Yogyakarta terhadap Konvensi Hak Anak oleh PBB pada tahun 1989 dan Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. FAKTA berdiri tanggal 15 Maret 2009. FAKTA telah meraih penghargaan sebagai forum anak teraktif se-Indonesia dan meraih penghargaan Data Forum Terbaik Nasional 2017.

Sore hari acara dibuka oleh Kepala DPMPA Octo Noor Arafat, SIP. “Alhamdulillah bahwa Cinema sudah berlangsung yang ke sembilan kalinya. Kegiatan ini salah satu program untuk mendukung Kota Yogyakarta sebagai kota layak anak, kota ramah anak dan kampung ramah anak. Pemerintah Kota Yogyakarta terus berupaya untuk memenuhi  dan melindungi hak-hak. Yaitu hak untuk hidup, hak untuk tumbuh kembang, hak untuk berpartisipasi dan perlindungan dari bahaya, kekerasan serta bullying”, jelas Octo Noor Arafat, SIP.

Malam harinya sesi diisi oleh Mba Indri dari KPAI Kota Yogyakarta yang mengajari kami pentingnya mengenal diri sendiri. “Di jaman now seperti saat ini yang penuh dengan godaan dan tantangan, anak-anak perlu untuk mengenal dirinya sendiri dengan baik. Tujuannya agar mampu melihat potensi diri dan kemudian mengembangkan sehingga tidak terseret pada kegiatan yang tidak bermanfaat. Anak jaman sekarang harus mempunyai “nilai diri” yang lebih untuk bersaing di era global”. Anak-anak memiliki cita-cita agar menjadi panduan dalam beraktivitas”, terang mba Indri.

Sesi malam ditutup dengan api unggun, banyak peserta yang menampilkan kemampuannya menyanyi dan memainkan alat musik. Rasa kekerabatan dan keakraban yang sudah terbentuk membuat suasana kegiatan menjadi lebih menyenangkan.

Pagi menjelang keseruan sudah dimulai dengan berbagai permainan yang membangun kerja sama dan kompetisi sehat seperti memindah karet gelang bersama dan voli bola air menggunakan sarung. Sayangnya kami yang kalah bersaing dengan peserta yang sudah SMA/SMK, tapi kami tetap merasakan kegembiraan dan kebersamaan.

Siangnya puncak acara dimulai yaitu sidang untuk memilih duta anak. Peserta di bagi menjadi 5 kelompok masing-masing membahas isu pendidikan, kesehatan, partisipasi perlindungan dan jaringan komunikasi. Masing-masing kelompok memaparkan isu dari wilayahnya kemudian dibahas bersama sampai dengan ditemukan solusinya. Mas Gilang dari Kelurahan Giwangan menyampaikan kasus perlunya konblok khusus difabel, taman bermain yang kurang dimanfaatkan dan perlunya jaringan WIFI di RTH.

Diakhir sidang terpilih 15 anak untuk menjadi Duta Anak Kota Yogyakarta Tahun 2015 yang akan bertugas mewakili Kota Yogyakarta di berbagai forum anak. Mereka nantinya akan bertugas memberi masukan kepada Pemerintah Kota Yogyakarta terkait permasalahan anak dan menjadi perwakilan Kota Yogyakarta pada Peringatan Hari Anak Nasional 2018.

Walaupun kami bertiga belum berhasil terpilih menjadi Duta Anak Kota Yogyakarta tidak menghilangkan semangat kami untuk menjadi anak-anak Kota Yogyakarta yang berprestasi dan berkarakter. Kami akan terus belajar dan berkarya, menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas. (Ata, Nailu, Naila)