Siswa SMPN 5 Yogyakarta Lakukan Penelitain Tentang Klitih

Dua orang siswa kelas IX SMP N 5 Yogyakarta,  Sheila Tirta Ayumurti dan Zhafira Mafaz telah melakukan penelitian tentang klithih.  Berdasarkan penelitian mereka dengan mewancarai pelaku tindak kejahatan klithih, orang tua pelaku, dan Balai Pemasyarakatan (Bapas) DIY, kebanyakan remaja atau pelajar yang terlibat kejahatan mempunyai masalah dalam keluarga.  Menurut Sheila, beberapa pelaku ada yang orangtuanya bercerai, ada yang ditinggal ayahnya dan ada pula yang tidak tinggal bersama orangtuanya. Masalah dalam keluarga ini, lanjut Sheila, menyebabkan para pelaku klithih meluapkan kekesalan ke orang lain.  “Salah satu tersangka yang kami wawancara mengaku jika kedua orangtuanya masih ada namun sama-sama sibuk. Selain itu dia sering dimarahi ayahnya dengan kata-kata kasar. Kurangnya perhatian di dalam keluarga menyebabkan mereka berulah,” jelas Sheila. Sheila menjelaskan, selain masalah keluarga, faktor pengaruh lingkungan pertemanan yang kurang baik juga mempengerahui para pelajar ini untuk berbuat kriminal.  Sementara itu Mafas menambahkan, pengaruh psikologi anak sejak kecil pun dapat mempengaruhi perbuatan mereka saat dewasa. Karenanya, para guru khususnya tingkat TK, harus bisa lebih peka jika melihat anak-anak yang terlihat murung.  "Kebanyakan para pelaku mengalami masalah yang berat saat mereka anak-anak atau saat berada di TK. Permasalahan berat ini memberi dampak ketika mereka remaja di mana seorang anak sedang mencari jati diri," kata Mafaz. Sedangkan untuk jenjang yang lebih tinggi, setiap sekolah harus memiliki ekstrakurikuler sesuai minat dan bakat para siswanya. Menurutnya, penyuluhan parenting juga perlu diadakan untuk membekali wawasan para orangtua.  Lebih lanjut, Sheila menjelaskan, penelitian ini sampai membutuhkan waktu hingga empat bulan lamanya. Hal ini lantaran mereka terkendala birokrasi. Namun dengan ketelatenan mereka, kedua belajar ini mampu mewancarai langsung para pelaku klithih yang ditahan di Polres Sleman dan Polresta Yogyakarta.  Bahkan mereka sempat mewancarai orang tua dari pelaku hingga petugas di Balai Pemasyarakatan (Bapas) DIY.  "Penelitian ini menguji mental juga sih soalnya baru pertama kali kami ngobrol langsung dengan pelaku kejahatan," imbuhnya. Atas kerja keras mereka, kedua siswi ini berhasil menjadi juara Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) tingkat provinsi beberapa waktu lalu.