Siswa SMPN 5 Yogyakarta Manfaatkan Limbah Daun Asam Jadi Sumber Energi Listrik

Semakin meningkatnya kebutuhan energi listrik dalam era serba digital, maka diperlukan adanya energi baru yang terbarukan.

Berkurangnya sumber energi berbahan dasar fosil, mendorong dua siswa Yogyakarta berinovasi dengan berkreasi memunculkan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dari limbah tanaman.

Adalah Avriza Devano Bestafa dan Rasendriya Ardhana Ajie yang meneliti sumber listrik alternatif dari limbah Daun Asam untuk membuat sebuah prototipe yang mampu mengalirkan listrik.

Avriza menuturkan, pemilihan limbah daun asam ini karena dirinya melihat banyaknya limbah daun asam di pinggir jalan yang berserakan dan menjadi sampah. "Dua pohon asam saja daun keringnya sudah menumpuk. Kalau satu jalan penuh pohon asam kan bisa dibayangkan daun keringnya seberapa. Saat ini, daun asam kering hanya dibakar sehingga menyebabkan polusi udara," kata Avriza pada Selasa (18/12/2018).

Padahal, limbah daun asam tersebut berpotensi untuk diolah menjadi sumber energi alternatif melalui beberapa langkah menggunakan prinsip 3R yakni Reuse, Reduce dan Recycle.

Limbah daun asam dipilih sebagai sumber energi listrik karena memiliki tingkat keasaman atau pH yang bersifat asam, artinya memiliki konduktivitas listrik yang tinggi.

Sebelum mencoba menggunakan limbah daun asam, Avriza sudah mencoba berbagai macam daun. Menurutnya, dari berbagai percobaan tersebut, limbah daun asam menghasilkan sumber energi alternatif yang lebih efektif.

"Kalau dibandingkan daun lain misalnya daun mangga yang juga memakai proses blender, itu daun mangga hasilnya tidak sebanyak jika menggunakan daun asam. Kalau buah untuk dimakan, daun bisa dimasak, jadi kami pakai limbah supaya limbah bermanfaat," lanjutnya.

Penelitian untuk mencari sumber energi alternatif yang menghasilkan larutan dari limbah daun asam untuk menggantikan solusi baterai konvensional.

Lanjut Afriza, limbah daun asam ini diperoleh dari daun asam yang sudah berserakan bukan diperoleh dari hasil memetik di pohon. "Kemudian limbah daun asam kita haluskan dengan diblender, masukan elektroda seng (Zn) dan tembaga (Cu) serta campuran dengan garam dan kemudian dijadikan paralel," ujarnya.

Sebanyak 240 gram limbah daun asam mampu menghasilkan tegangan sebesar +2,50 Volt dan arus listrik sebesar +40,80 mA yang mampu menyalakan lampu LED 1,6 V dan 10mA selama 50 jam.

"Tegangan sebesar 2.5 V dan 40.8 mA itu bisa menyalakan tiga lampu LED kecil, kalau disambung dengan tegangan yang lebih besar akan mampu menyalakan lampu dengan daya lebih besar," tutur dia. Penelitian limbah daun asam diharapkan dapat diaplikasikan di daerah-daerah yang kekurangan listrik.

Dari hasil penelitian tersebut berhasil membawa dua siswa Yogyakarta meraih Medali Perunggu dalam Lomba Peneliti Belia Tingkat Nasional 2018 di bidang Enviromental Science. Rencananya, penelitian karya Avriza dan Ajie akan diadu di ajang Internasional 'Science Competition' di Malaysia dan Rusia di tahun depan.

Saaat ini Avriza dan Ajie tengah mengubah limbah daun asam yang berbentuk gel menjadi batre kering. "Limbah daun asam bentuknya gel, kami ingin mengubah jadi bentuk padat seperti batre. Kami masih harus memastikan kalau sudah padat itu apakah listriknya sebesar waktu berbentuk gel," katanya. (*)