Pecah Telor, SMP Negeri 5 Meraih Medali di NYIA ke-14

Prestasi membanggakan kembali diukir oleh siswa SMP Negeri 5 Yogyakarta di ajang kompetisi ilmiah dan inovasi bergengsi di Indonesia, yaitu National Young Inventors Award (NYIA 2021). Prestasi akademik yang sejalan dengan visi sekolah ini dipersembahkan oleh Maximus Quinn Hertada (9K) dan Fadlan Raya Effendi (9K) yang tergabung dalam Tim MONSTER PROKES (MONitor Siswa TERpadu PROtokol KESehatan). Setelah bersaing dengan 417 proposal inovasi siswa SD, SMP, dan SMA yang berasal dari 34 provinsi di seluruh Indonesia, Tim MONSTER PROKES berhasil meraih juara ketiga dalam Lomba National Young Inventors Award (NYIA 2021) ke-14 yang diselenggarakan oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) - BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dengan tema ”Percaya Nalar dengan Riset dan Inovasi” dan diumumkan pada hari Kamis, (28/10/2021). Dari seluruh inovasi yang masuk ke panitia lomba, Tim MONSTER PROKES menjadi salah satu tim terpilih dalam 50 finalis inovasi terbaik. Selanjutnya pada tanggal 26 Oktober 2021, tim ini melakukan presentasi dan diuji oleh Tim Dewan Juri NYIA yang terdiri dari peneliti dan inovator senior Indonesia. Dewan Juri ini melakukan penilaian dari berbagai aspek, mulai orisinalitas, kebaruan, hasil data, operasional inovasi maupun teknik presentasi, sehingga dapat dipilih talenta muda berbakat di bidang inovasi dari generasi Z yang potensial dan mungkin memiliki nilai kekayaan intelektual untuk dikembangkan. Selain mendapat penghargaan berupa sertikat, uang, dan trofi, pemenang dari kompetisi NYIA akan terus diikutsertakan dalam afiliasi kompetisi internasional, seperti Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) dan Internasional Exhibition for Young Inventors (IEYI). Menurut Plt. Direktur Manajemen Talenta sekaligus Ketua Panitia Youth Science Week 2021 Raden Arthur Ario Lelono, “Kegiatan kompetisi ilmiah ini adalah langkah awal mengedukasi, mengekspos generasi muda dengan memberikan contoh yang tepat bagaimana penelitian dilakukan, bagaimana menjadi seorang periset dan inovator, serta bagaimana membuka jenjang karir dalam dunia riset dan inovasi”. Inovasi MONSTER PROKES berawal dari keresahan mereka berdua dalam menanggapi rencana proses pembelajaran tatap muka (PTM) yang berpotensi menimbulkan klaster baru Covid-19 di sekolah dan sulitnya mengawasi siswa yang tidak taat protokol kesehatan di lingkungan sekolah. "Kami pun mencoba membuat sebuah alat berupa gelang yang berfungsi memonitor siswa selama PTM dan praktis digunakan. Proses pembuatan membutuhkan waktu kurang lebih delapan bulan," katanya, Selasa (2/11). Selama delapan bulan dengan bimbingan guru IPA, Ibu Maria Faeka Christiani,S.Si., kedua pelajar ini bekerja keras mulai dari mendesain alat, menguji coba dan mengembangkan piranti sehingga memiliki banyak fungsi disamping fungsi utama pengukuran suhu siswa. Pada tahap akhir, 'MONSTER PROKES' berhasil dikembangkan dan mampu mendeteksi detak jantung, kadar oksigen dalam darah serta kerumunan siswa selama berada di lingkungan sekolah. Menurut Maximus, inovasi ini sangat penting untuk membantu penerapan ProKes siswa secara ketat di lingkungan sekolah pada masa new normal. Inovasi ini memiliki dua kepraktisan penggunaan gelang, yaitu bagi siswa dan petugas pengawas sekolah dengan meningkatkan efisiensi waktu pengecekan suhu dan kondisi kesehatan siswa, serta memantau kerumunan siswa di lingkungan sekolah. "Sistem kerja gelang ini menggunakan WiFi sebagai access point untuk mengirim data kondisi dan keberadaan siswa menuju komputer server pemantau siswa. Dari sini petugas pengawas dapat memantau ketaatan prokes siswa dengan praktis," jelas siswa yang dididik oleh wali kelas Ibu Anna Rachmawati, M.Pd. dan Ibu Sri Widati, S.Pd. ini. Fadlan mengakui saat pembacaan Special Award, dari 15 tim peserta, tim mereka tidak disebut. Menurutnya, ini bakal mengecewakan, karena gelar Special Award sudah sangat baik untuk didapatkan. "Kami sudah izin tidak mengikuti ujian akhir tahun untuk bisa ikut kompetisi. Sudah izin tidak ikut ujian dan tidak mendapat award apa-apa tentu sangat mengecewakan kami. Namun, ternyata Tuhan memberikan kami gelar yang lebih baik dari itu dan kami sangat senang mendengar nama kami disebut pada saat pembacaan gelar juara tiga," katanya. Kemenangan ini, menurut Fadlan, menjadi kebanggaan bagi pribadi, orang tua maupun sekolah. Pasalnya, kompetisi oleh BRIN merupakan lomba bertaraf nasional yang bergengsi dan cukup sulit untuk menjadi juara di lomba ini. Menjadi peserta kompetisi ini menjadi tantangan tersendiri, karena bersaing dengan ratusan peserta lainnya dari seluruh Indonesia dan juri lomba ini me-review dengan sangat berkualitas. Guru pembimbing Tim MONSTER PROKES menambahkan, proses penelitian yang dilakukan anak didiknya ini tidak mudah karena pengetahuan yang belum cukup banyak, sehingga membutuhkan usaha ekstra untuk belajar pengetahuan baru. "Mereka juga harus membagi waktu untuk belajar pelajaran sekolah dan mengerjakan penelitian karena dua anak ini masuk kelas akselerasi," katanya. Jika melihat peta persaingan, kompetensi oleh BRIN ini memang tidak mudah, sebab peserta merupakan pelajar terbaik dengan inovasi terbaik mereka. Terlebih juri berasal dari kalangan peneliti senior Indonesia yang sangat teliti dalam mengulas dan menilai inovasi yang diajukan para peserta.